liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Warga Tak Mau Kawin, Wanita Ogah Hamil

Jakarta

Semakin banyak negara mengalami penurunan populasi karena orang-orang mereka menolak untuk memiliki anak. Resesi seks mengacu pada risiko krisis demografi ketika lebih banyak wanita berhenti melahirkan.

Situasi ini tidak hanya terjadi di satu atau dua negara tetapi beberapa negara besar di dunia. Jadi negara mana saja yang mengalami penurunan populasi? Berikut adalah daftar negara yang dihantui ‘kemerosotan seks’.

Korea Selatan

Pada 2021, berdasarkan data pemerintah Korea Selatan, angka kelahiran hanya 0,81 persen. Padahal idealnya suatu negara harus memiliki angka fertilitas 2,1 persen untuk mempertahankan jumlah penduduk. Tidak hanya itu, di Tanah Ginseng semakin banyak anak muda yang tidak mau menikah. Wanita yang sudah menikah juga memilih untuk tidak hamil.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Tidak ada angka resmi berapa banyak warga Korea Selatan yang memilih untuk tidak menikah atau memiliki anak. Namun berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2020 tercatat ada sekitar 193 ribu pernikahan di negeri ini. Angka ini mengalami penurunan dari tahun 1996 yang mencapai 430 ribu. Data tersebut juga menunjukkan bahwa tahun lalu sekitar 260.600 bayi lahir, sedangkan puncak kelahiran di Tanah Air adalah 1 juta pada tahun 1971.

“Singkatnya, orang mengira negara kita bukan tempat yang mudah untuk ditinggali,” kata Lee So-Young, pakar kebijakan kependudukan di Korea Institute of Health and Social Affairs di Korea Selatan.

“Mereka percaya anak-anak mereka tidak dapat memiliki kehidupan yang lebih baik dari mereka, jadi pertanyakan mengapa mereka harus repot memiliki bayi,” lanjutnya.