liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Buah Manis Nelayan Semarang, Bikin Mangrove Edupark yang Sedot Wisman


Semarang

Nelayan di Semarang tidak hanya bekerja di laut. Mereka juga pahlawan bagi lingkungannya karena mampu membangun Mangrove Edupark dan menarik wisatawan mancanegara.

Warga Tambakrejo, Kampung Tanjung Mas, Semarang, berkunjung ke Tambakrejo Mangrove Edupark. Wisata alam yang diresmikan pada 2019 ini ternyata menjadi pionir warga dari kelompok nelayan sejak 2011.

Lokasi wisata tersebut berada di RW 16, Kelurahan Tanjung Mas, Semarang Utara. Untuk menuju lokasi, wisatawan perlu naik perahu bermotor dengan harga Rp 15.000 per orang untuk 5 hingga 10 orang.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Tempat wisata ini memiliki suasana mangrove dengan jalan setapak yang terbuat dari bambu. Ada berbagai jenis mangrove atau bakau dan wisatawan bisa mendapatkan edukasi tentang mangrove dari pemandu wisata yang disediakan.

Salah seorang pengelola Mangrove Edupark, Zazid (48), mengatakan, taman mangrove ini berawal dari kerjasama penanaman antara perusahaan dengan kelompok Love Nature Magrove Asri dan Rimbun (Camar) pada 2011. Awalnya, warga hanya berpikir untuk melakukan penghijauan dengan penanaman.

“Inisiatifnya karena ada sawah yang tidak terpakai akibat genangan air untuk menanam mangrove. Akhir 2011 kami hanya menanam dan merawatnya,” kata Zazid melalui sambungan telepon kepada detikJateng, Selasa (6/12/2022). . ).

Zazid mengaku tidak begitu mengetahui manfaat pohon mangrove saat pertama kali menanamnya bersama teman-temannya. Namun, sejak menjalankan proyek penanaman, ia banyak belajar bahkan melakukan studi banding ke berbagai daerah.

Zazid mengatakan, sebagian besar pengunjung tempat wisata tersebut berasal dari sekolah-sekolah yang mengadakan study tour. Namun, tidak sedikit orang dari luar negeri yang datang untuk melakukan penelitian atau sekedar berkunjung.

“Dari Prancis, China, Jepang, Australia ada. Dari Amerika ada kajian mangrove,” ujarnya.

Artikel ini telah diposting di detikJateng

Simak Video “7 Mobil Hancur Akibat Banjir Bandang Semarang!”
[Gambas:Video 20detik]
(mis./mis.)