liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Imunisasi Pasif, Opsi Tambahan Proteksi COVID-19 pada Penderita Kanker


Jakarta

Kekebalan pasien kanker yang lemah membuatnya kurang mampu melawan penyakit dan infeksi. Mereka juga memiliki risiko lebih tinggi tertular penyakit COVID-19 daripada yang lain.

Untuk itu, diperlukan penanganan lain sebagai perlindungan tambahan bagi pasien kanker dalam mencegah risiko COVID-19, seperti melalui imunisasi pasif. Seperti diketahui, jumlah kasus kanker di Indonesia pada tahun 2020 dari data Globocan mencapai 396.914 kasus dengan total 234.511 kematian.

Sementara itu, penelitian Restorasi yang dirilis oleh Linardou et. Dijelaskan Al, terdapat perbedaan respon tubuh terhadap vaksin yang diberikan pada dua kelompok, yakni kelompok penderita kanker dan kelompok sehat (kontrol). Berdasarkan penelitian ini, respon imun pasien kanker terbukti lebih rendah setelah individu tersebut menerima vaksin.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Respon imun pasien tidak cukup untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit/infeksi, salah satunya adalah virus SARS-Cov-2 penyebab COVID-19. Kondisi ini bisa disebabkan oleh kanker itu sendiri atau sebagai efek samping dari terapi kanker.

“Mengingat fakta tersebut, ada sekelompok pasien kanker yang berisiko tidak mendapatkan perlindungan optimal yang sama dengan orang sehat, bahkan setelah vaksinasi. Sehingga untuk kelompok pasien ini, imunisasi pasif berupa antibodi monoklonal bisa menjadi pilihan. sebagai proteksi tambahan,” kata Konsultan Medik Spesialis Penyakit Dalam, dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM dalam keterangan tertulisnya.

menurut dr. Jeffry, imunisasi yang efektif harus menginduksi stimulasi jangka panjang, baik sistem imun humoral maupun seluler yang dimediasi oleh sistem adaptif dengan memproduksi sel efektor untuk infeksi saat ini dan sel memori untuk infeksi di masa depan oleh agen patogen.

Ada banyak jenis vaksin yang digunakan atau sedang dikembangkan untuk pencegahan penyakit menular. Dalam kondisi ideal, vaksin harus dapat memicu sistem imun bawaan dan sistem imun adaptif.

Namun, setiap jenis vaksin memiliki kelebihan dan kekurangan yang dapat mempengaruhi stimulasi sistem kekebalan tubuh dan membatasi penggunaan vaksin jenis ini.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam keadaan tertentu, seperti pasien kanker, vaksin saja mungkin tidak dapat melindungi dari COVID-19. Ia mengatakan, ada terapi imunisasi pasif, seperti antibodi monoklonal, yang dapat menjadi pilihan bagi pasien untuk mendapatkan perlindungan tambahan terhadap COVID-19.

Antibodi monoklonal ini menargetkan Spike Protein Virus COVID-19 sebagai pencegahan (Pre-exposure Prophylaxis/PrEP) terhadap infeksi SARS-CoV-2. Berdasarkan penelitian, antibodi monoklonal dapat mencegah infeksi COVID-19 pada kelompok rentan, salah satunya pasien kanker. Sebaliknya, antibodi monoklonal dapat memberikan perlindungan jangka panjang hingga 6 bulan dan efektif melawan virus SARS Cov-2 yang bermutasi.

Oleh karena itu, opsi tambahan ini dapat menjadi perlindungan yang lebih optimal terhadap infeksi COVID-19 bagi pasien kanker yang mengalami gangguan fungsi sistem imun.

Sementara itu, Founder dan Chairman Cancer Information and Support Center (CISC), Aryanthi Baramuli Putri menjelaskan, pasien kanker tidak hanya bisa mengandalkan vaksin dan antibodi monoklonal tetapi diimbau untuk tetap menerapkan protokol kesehatan.

“Protokol 3M jaga jarak aman, cuci tangan dan pakai masker harus diterapkan. Jika perlu, CISC juga selalu hadir untuk memberikan dukungan dan memberikan informasi terkait pasien kanker dalam melindungi diri dari COVID-19,” ujarnya.

Tonton Video “Uji Coba Vaksin Covid-19 Semprot Hidung AstraZeneca-Oxford Gagal”
[Gambas:Video 20detik]
(ncm/ega)