liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Benarkah Seks Oral Bisa Bikin Orang Terkena HIV? Begini Penjelasannya


Jakarta

Seks oral akhir-akhir ini ramai diperbincangkan karena termasuk dalam definisi perkosaan dalam KUHP yang baru. Berdasarkan Pasal 473 RKUHP versi 30 November, kini tidak hanya memasukkan aurat laki-laki ke dalam aurat perempuan, beberapa tindak kekerasan seksual lainnya seperti oral seks juga dapat diancam dengan pidana penjara 12 tahun.

Di luar kasus ini, pakar seks klinis Zoya Amirin menjelaskan efek psikologis atau mental yang umumnya diterima seseorang saat melakukan seks oral. Jika pasangan atau keduanya memiliki persetujuan untuk melakukan seks oral, mungkin ada rasa ‘penerimaan’ yang terasa utuh.

Penerimaan laki-laki dan perempuan pada umumnya berbeda. “Misalnya, bagi sebagian besar pria, oral seks adalah ketika pasangannya baik terlepas dari orientasinya. Pria-pria ini cenderung merasa tubuh mereka diterima sepenuhnya ketika pasangannya ingin memberikan oral seks,” kata Zoya dalam sebuah diskusi eLife. detikcom Jumat (9/12/2022).

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Tidak semua pria memiliki efek psikologis yang sama. Zoya tidak memungkiri bahwa sebagian dari mereka justru merasa tidak nyaman dengan oral seks. Namun, kasus yang sama sekali berbeda ditemukan pada wanita. Sebagai seorang seksolog klinis, ia sering menerima keluhan dari istri yang menolak memberinya seks oral.

Hal ini sering dikaitkan dengan rasa malu, takut, cemas, was-was, terkait dengan persepsi suami setelah melakukan oral seks. ”Wanita takut dianggap penolakan atau penolakan, sehingga banyak wanita melakukan masturbasi untuk merangsang klitoris, wanita juga terkadang terlalu minder banyak ketakutan,” lanjutnya.

Salah satunya terkait dengan bau vagina yang tidak sedap secara alami, terutama menjelang menstruasi. Oleh karena itu, pasangan yang secara sadar menerima aktivitas seksual disebut Zoya berdasarkan cinta dan kasih sayang, karena keduanya tidak menerima manfaat fisik, sehingga menurunkan egonya.

”Pastinya dari hati ya, karena apapun yang diberikan pasangan pasti kurang baik. Jadi jika seorang wanita memberikannya kepada suaminya dalam konteks heteroseksual, apa gunanya bagi wanita itu? Memang tidak ada, jadi laki-laki itu mau berbagi secara lisan, apakah ada kenikmatan jasmani dan jasmani? Ya nggak ada, ini benar-benar kesenangan psikologis yang diterima,” jelas Zoya.

Simak video “Cegah Cacar Monyet, WHO Ajak Masyarakat Hindari Seks Bebas”
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)