Main ke Hutan Pala Sangeh, Berani Nggak Kasih Makan Monyet?


Badung

Monyet di kawasan hutan Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, semakin lestari. Setelah ditutup akibat badai pandemi, tempat wisata ini kembali menawarkan sensasi memberi makan monyet sebagai salah satu daya tariknya.

Pengelola wisata Hutan Pala Sangeh berusaha meyakinkan para wisatawan bahwa kera-kera tersebut sudah tidak seganas dulu.

“Dulu image kera di sini garang, tidak layak dikunjungi, jadi ada efeknya. Kalaupun tidak,” kata Ketua Pengurus Sangeh, Made Mohon, Senin (21/11/2022).

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Ketika dibuka pada April 2022 setelah wabah, pengelola mulai memperbaiki area objek dengan menata taman. Termasuk gencarnya memberi makan monyet yang hidup di kawasan hutan seluas 10 hektar itu.

Kacang Sangeh Foto: detik

Pengelola menyiapkan anggaran hingga Rp 15 juta per bulan untuk menyediakan makanan bagi para kera. Dana tersebut diambil dari sebagian keuntungan dari kunjungan wisatawan. Diakuinya, monyet-monyet itu sudah kembali ke sifat garang aslinya.

Ini karena pasokan makanan dan stok di hutan semakin berkurang. Kawanan itu mulai berkeliaran dari rumah ke jalan. Ketahuilah bahwa ketika tidak ada pengunjung, biaya memberi makan monyet kecil, bahkan nol.

Pengelola meminta bantuan kepada siapa saja yang bersedia menyediakan makanan secara sukarela. Semangatnya tinggi. Banyak warga yang dengan antusias memberikan berbagai jenis makanan untuk kelangsungan hidup monyet tersebut.

“Makanya kita tidak boleh menyerah memberi makan. Saat tidak ada makanan, monyet menjadi ganas. Memang begitulah sifat asli mereka. Sementara itu, kami berkomitmen untuk mengubah sifat dan karakter mereka dengan memberi mereka makan,” kata Made. Tolong

Jadi, wisatawan kini diperbolehkan memberi makan monyet. Sebisa mungkin dan tidak merugikan monyet. Pengunjung tetap akan diawasi pengelola saat menyiapkan pakan.

Pria asal Kampung Sangeh itu mengaku, reaksi monyet itu ramah dan tidak agresif saat diberi makan. Barang milik pengunjung jangan diambil. Yang berani bisa langsung memberikannya. Kami juga menyediakan makanan. Bahkan bisa berfoto bersama monyet. Semoga beruntung,’’ ujarnya.

Wisatawan yang merindukan suasana alam atau penat dengan hiruk pikuk kota, bisa singgah sejenak di objek wisata ini. Pengunjung dapat menikmati kesejukan sambil menyaksikan sekelompok monyet yang berkeliaran. Pura yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-17, Pura Pucak Bukit Sari, bisa dijadikan latar foto di media sosial.

Wisatawan lokal atau domestik hanya perlu membayar tiket masuk sebesar Rp 15.000, sedangkan anak-anak hanya dikenakan tiket sebesar Rp 5.000 per orang. Untuk wisatawan mancanegara tentu berbeda yaitu Rp 30.000 untuk dewasa dan Rp 15.000 untuk anak-anak.

Lokasi objek wisata Sangeh ini berjarak sekitar 25 km dari Denpasar atau dapat ditempuh dalam waktu 45 menit. Lokasinya berada di antara jalur Denpasar menuju Jembatan Bangkung, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung, dan bisa menuju kawasan Kintamani, Kabupaten Bangli.

Artikel ini diterbitkan pada Detik Bali.

Simak Video “Tari Kecak Uluwatu Bali Penuh Filosofi Mistis”
[Gambas:Video 20detik]
(sim/sim)