The Grand Palace Tetap Ramai Tanpa Turis China, Penuh Sesak Jika Ada


Bangkok

Grand Palace menjadi destinasi yang wajib dikunjungi oleh wisatawan mancanegara yang datang ke Bangkok, Thailand. Itu adalah kediaman utama raja-raja dari abad ke-18.

Destinasi tersebut dikabarkan sepi akibat turis China yang masih dikurung pemerintah. Maklum, warga negara China belum bebas bepergian ke luar negeri karena ada beberapa syarat dan karantina terkait Covid yang harus dipatuhi.

detikTravel bersama Tourism Authority of Thailand (TAT) melakukan perjalanan ke Chiang Mai, Chiang Rai dan Bangkok minggu lalu. Salah satu pemandu kami, Masukree Kueteh, menjelaskan tentang kontribusi wisatawan Tiongkok terhadap negaranya.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

“Kalau dilihat secara umum, pergerakan wisman semakin meningkat. Sejak kita buka September terus meningkat. Jadi meningkat, kalau kita lihat pergerakan pesawat sangat ramai,” ujarnya.

“Cuma China saja yang belum masuk karena masih perlu dikontrol ketat. Kalau China masuk, akan penuh dengan Thailand. Tidak ada tempat di destinasi wisata itu,” tambahnya.

Antrian di loket tiket The Grand Palace Bangkok (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)

Dalam tour tersebut, kami juga mengunjungi The Grand Palace Bangkok. Dengan tiket 500 baht atau Rp 216 ribu kita bisa mengunjungi vihara bangunan utama raja, menerima tamu dan melakukan pawai nasional, menonton pertunjukan dan pergi ke museum.

Namun sayang, gedung utama The Grand Palace Bangkok masih ditutup untuk kunjungan umum. Penyebabnya Covid dan shutdown sudah sejak awal pandemi.

Meski begitu, The Grand Palace Bangkok masih ramai bahkan sangat ramai jika dibandingkan dengan destinasi sejenis di Indonesia. Menurut pengamatan kami, wisatawan datang dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Korea Selatan, India, Eropa, Amerika hingga Taiwan.

Mereka seperti pengganti turis dari China. Bahkan di Wat Phra Kaew atau Kuil Buddha Zamrud di mana terdapat Buddha zamrud, begitu ramai di dalam gedung.

“Sampai saat ini turis China belum ada lagi. Pasar yang ada adalah Eropa, Amerika Serikat, Vietnam, Indonesia. China masih nol, tapi mereka dari Taiwan dan Makau,” ujar Masukree.

“Hong Kong masih cukup sulit,” tambahnya.

Tonton Video “Demonstrasi Tolak KTT APEC di Thailand Dibubarkan dengan Tembakan Peluru Karet”
[Gambas:Video 20detik]
(mis./ddn)